MONOLOG
Tentang aku dan perihal patah hati, semuanya semu dan tabu
jika aku tak bersanding dengan kata itu. Aku yang selalu dihempas oleh oleh
cinta yang tak berbalas dengan kasih yang selalu orang lain rampas, padahal
denganya aku selalu tulus. Untaian kata ku rangkai tanpa jeda setiap harinya. Sekarang
sajaku bukan lagi perihal cinta melainkan tentang hati yang menginginkan sembuh
dari patah yang selama ini membuatku rapuh.
Selama hampir 3 tahun lamanya aku bergelut dengan isi hati
yang selalu menginginkan dia kembali, aku tak berdaya. sebab hati ketika sudah
mencinta benar-benar membuatku gila, selama itu juga setiap pergi ke tempat-tempat
indah untuk menenangkan hati, hati ini selalu bernostalgia denganya ketika
dulu. Aku terlalu bodoh dalam hal mencintai, aku rela melakukan apa saja demi
cinta. Namun setelah pengorbanan yang aku lakukan selalu mendapat timbal balik
yang tak sepadan, bahkan tidak ada harganya.
Setiap hari rutinitasku hanyalah melupakanya, yang tadinya
aku bukanlah perokok sekarang rokok adalah teman terbaik dengan segelas kopi
pahit yang ku seduh dengan penuh harapan. Sambil melamun dan bertanya kepada
diri mengapa hal ini terjadi berulang-ulang?? Sebodoh inikah aku dalam
percintaan, padahal selama bersamanya aku merasa tak pernah melakukan kesalahan
yang hebat, yaaa mungkin kesalahan adalah terlalu mencintainya, namun apakah
itu salah??.
Namun setelah aku membulatkan niat untuk melupakanmu, kamu datang
dan menanyakan kabarku, lalu dengan mudahnya mengatakan kata rindu dalam pesan
singkat yang membuat hati ini bimbang, apakah ini?? Dulu dirinya meninggalkan
ku penjelasan yang jelas, namun mengapa kembali pada saat hati ini ingin
mencari Labuan baru untuk sang rindu.
“Aku tahu
Aku tahu rasa ini tak
akan menemui titik temu,
Aku tahu rasamu itu
masih semu.
Tolong!!
Jangan biarkan aku
merindu,
Jangan biarkan aku
terjebak oleh tingkah lakumu yang seakan mencintaiku.
Harus kau ingat,
Patah tak selalu
tentang tulang, hati juga berpeluang”
Komentar
Posting Komentar